“Nelayan itu tangkapan ikannya beda-beda. Hari ini bisa tidak sama dengan sebelumnya, lebih sedikit, lebih banyak, atau sekadar dapat ikan untuk dikonsumsi saja. Ketika PTPL punya program bengkel binaan maka nelayan-nelayan terbantu untuk pemeliharaan mesin mereka,” ujar Arry.
Dikatakan, Sumbar memiliki potensi di sektor pertanian sekaligus maritim. Kedua sektor ini sama-sama menyumbang pada ketahanan pangan daerah dan nasional. Ketika nelayan mampu menjaga kapal dan mesinnya tetap berfungsi dengan baik, dan cost yang dibutuhkan untuk itu lebih minim, maka peluang melaut dan mendapat hasil yang lebih besar juga akan muncul. Muaranya adalah peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.

Kemandirian yang Tumbuh dari Bungus
Dulu, sebagian warga Bungus yang berprofesi buruh bongkar kapal tuna hanya bisa mendapatkan upah Rp150,- per kilogram tuna yang mereka bongkar dari kapal. Kini, sudah ada di antara mereka yang memiliki kapal sendiri, membangun kelompok usaha, terlihat dalam kegiatan kapal tuna, dan memperjuangkan harga jual yang lebih baik. Perubahan itu tidak menghapus risiko melaut, tetapi membuka jalan agar mereka tak selamanya berada di posisi yang sama.
Bagi Wiwit, sang pionir pemikiran, perjuangan ini belum selesai. Masyarakat nelayan Bungus harus tumbuh bukan hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang mampu menentukan masa depan mereka sendiri.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





