“Saya coba komunikasi dengan beberapa teman dan orang-orang yang punya link dengan perusahaan. Di situ akhirnya berpikir, kalau perorangan komunikasi itu lambat ditangkap, atau responsnya tidak sebagus kalau ada kelompok,” ungkap Wiwit.
Dengan bantuan penyuluh perikanan di Padang kala itu, Rusda, Wiwit mulai mempelajari prosedur pembentukan kelompok. Pada 2021, akhirnya terbentuklah KUB Tuna Mandiri, yang kemudian dikenal sebagai KUB Anugrah Tuna Mandiri.
Pada tahap awal, kelompok ini menghimpun sekitar tujuh kapal dan sepuluh anggota. Wiwit turut mendorong para nakhoda masuk dalam kelompok karena usaha perikanan bukan hanya urusan pemilik kapal. Pengalaman dan keterampilan awak kapal juga menentukan keberhasilan perjalanan.
Setelah kelompok terbentuk, Wiwit membantu membuka komunikasi dengan sejumlah calon pembeli, termasuk perusahaan dari Jakarta dan Jepang. Menurut dia, kehadiran lebih dari satu calon pembeli ikut membuka peluang persaingan harga. Pada periode tertentu, harga tuna yang sebelumya berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp32 ribu per kilogram dapat mencapai Rp50 ribu per kilogram.
Harga tersebut tentu tidak berlaku setiap waktu. Namun, pengalaman itu memperlihatkan pentingnya posisi tawar dan kemampuan memenuhi kebutuhan pembeli, baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun kotinuitas pasokan.
“Itulah motivasi saya. Ingin membantu kelompok agar nelayan lokal memiliki posisi tawar yang bagus,” sebut Wiwit.
Dia ingin warga yang sebelumnya hanya menerima upah bongkar bisa memiliki kesempatan menjadi bagian dari usaha tuna itu sendiri. Mereka dapat memiliki kapal, bergabung dalam usaha kapal, atau mengembangkan usaha pendukung lainnya.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





