Menurut Wiwit, yang kini dipercaya sebagai Penasihat pada KUB Anugrah Tuna Mandiri, pada sekitar 2018-2020 terdapat sekitar 30 kapal tuna milik pengusaha Jakarta yang beroperasi di Bungus. Warga lokal berada dekat dengan kegiatan ekonomi perikanan tetapi belum banyak yang mengambil peran sebagai pemilik usaha.
“Potensi tuna di Sumbar padahal sangat besar. Kenapa tidak dimajukan,” sebut Wiwit, mengenang awal mula perjuangan KBU Anugrah Tuna Mandiri, saat dijumpai di Bungus, Rabu (21/10/2026) itu.
Berlatar belakang pendidikan perikanan dari Sekolah Usaha Perikanan Menengah Negeri (SUPM.N) Pariaman, Wiwit ingin berkontribusi langsung bagi masyarakat di sekitar pelabuhan di Bungus. Dia melihat potensi tuna yang besar belum sepenuhnya menjadi kekuatan ekonomi warga lokal. Baginya, persoalan bukan semata-mata bagaimana menangkap ikan, melainkan bagaimana masyarakat dapat masuk ke dalam rantai usaha yang lebih luas.
Kala itu, Wiwit melihat, ada seorang mantan nakhoda kapal asal Jakarta bernama Ali membangun kapal sendiri. Menemukan hal ini, Wiwit menyadari, berarti setidaknya ada harapan bahwa masyarakat memiliki keinginan untuk berkembang, bahwa ada yang berminat untuk menjadi pengusaha daripada hanya sekedar menjadi penonton kegiatan usaha tuna.
Ia pun berusaha memberi semangat kepada warga lain, sehingga saat itu mulai ada warga yang mencoba hal serupa. Ada yang membeli kapal kecil, ada pula yang berusaha mengalihkan kapal penangkap cumi menjadi kapal tuna.
Wiwit melihat keberanian itu sebagai peluang yang harus diperkuat dengan pengetahuan dan kerja bersama. Memiliki kapal saja tidak cukup. Nelayan harus memahami cara menangkap ikan, mengelola keuangan, menjaga kualitas hasil tangkapan, dan mencari pembeli yang mampu menyerap produksi secara berkelanjutan. Dia juga khawatir nelayan yang bergerak sendiri-sendiri akan kesulitan berhadapan dengan pembeli besar.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





