“Kita nelayan butuh mesin kapal itu diperbaiki secepatnya. Kalau kapal rusak kan tidak bisa mancing. ABK tetap disiapkan makan. Nanti kalau kita ga dapat ikan gimana?” kata Fia.
Mesin, bagi seorang nelayan yang sekaligus pemilik kapal seperti Fia, bukan hanya bagian dari kapal. Mesin juga bisa menentukan apakah modal yang sudah dikeluarkan masih memiliki peluang untuk bisa kembali.

Perbaikan Mesin Bukan Pengeluarkan Kecil
Sebelum ada teknisi mesin kapal yang menetap di sekitar PPS Bungus, nelayan kerap menghadapi kesulitan mencari orang yang mampu menangani kerusakan mesin. Teknisi biasanya didatangkan dari pusat Kota Padang, yang perlu menempuk jarak menuju lokasi Bungus 10-12 kilometer. Waktu penanganan bergantung pada ketersediaan teknisi, antrean pekerjaan, tingkat kerusakan, dan peralatan yang dibutuhkan.
Yohan Bastian (33), teknisi yang mengikuti pelatihan melalui KUB Anugrah Tuna Mandiri, menjelaskan bahwa biaya perbaikan mesin bergantung pada jenis pekerjaan. Untuk top overhaul atau TO, biaya jasa berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Medium overhaul atau MO berkisar pada Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta, sedangkan pekerjaan yang dia sebut global overhaul atau GO dapat menelan biaya di atas Rp3 juta. Semua angka tersebut hanya biaya jasa, belum termasuk suku cadang.
Pada satu kasus pekerjaan, selisih biaya antara teknisi lokal dan teknisi dari luar Bungus dapat cukup berarti. Wiwit mencontohkan, untuk pekerjaan tertentu, biaya teknisi lokal bisa sekitar Rp4 juta, dibandingkan sekitar Rp6 juta jika menggunakan teknisi luar.
Mesin kapal tuna juga tidak selalu sederhana. Sebagian kapal menggunakan mesin diesel yang diadaptasi dari mesin mobil bekas. Kerusakan berat dapat membutuhkan pekerjaan rumit, bahkan pembongkaran bagian kapal bisa saja dilakukan untuk mengakses mesin.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





