Dari Buruh Bongkar ke Panggung Usaha Tuna: Perjuangan KUB Anugrah Tuna Mandiri Mengubah Nasib Nelayan Bungus

Yohan, teknisi mesin kapal yang merupakan anggota KUB Anugrah Tuna Mandiri, sedang melakukan perbaikan mesin Mitsubishi 4d30, dalam kapal nelayan Bungus yang sedang mengalami kerusakan. (Foto: Dok. Pribadi/SumbarFokus.com)

“Paling banyak, waktu itu, saya pernah mendapat 2,5 ton,” katanya.

Frekuensi melaut pun bergantung pada ketersediaan modal, kondisi mesin, cuaca, dan keadaan di laut. Karena itu, dua kali perjalanan dalam sebulan bukan sesuatu yang selalu dapat dipastikan.

“Mesin lampu itu paling sering rusak. Karena lampu ini kan hidup lama. Dari jam 5 sore sampai pagi. Setiap hari saat berlayar,” ujar Fia.

Kerusakan juga dapat terjadi pada dinamo, mesin lampu, gearbox, maupun komponen lainnya. Jika awak kapal tidak mampu mengatasi masalah, mereka harus mencari teknisi. Kapal bisa tertahan di pelabuhan, sedangkan biaya yang telah dikeluarkan untuk perjalanan tidak otomatis kembali.

Bacaan Lainnya

Fia masih mengingat pengalaman ketika empat kapal pernah mengalami kerugian karena tidak memperoleh ikan sama sekali.

“Tapi pernah kita rugi. Empat kapal rugi semuanya. Nol hasilnya. Jadi Rp100 jutaan sekali ke laut habis. Waktu itu tidak ada tuna yang dapat,” sebutnya.

Pengalaman itu menunjukkan betapa rentannya usaha nelayan. Kerugian bukan hanya modal yang hilang, tetapi juga kebutuhan keluarga yang tetap berjalan dan biaya untuk menyiapkan perjalanan berikutnya.

Hitungan sederhana memperlihatkan betapa besar pengaruh hasil tangkapan ikan terhadap keuangan kapal. Jika satu ton terjual dengan harga Rp45 ribu per kilogram, nilai penjualan kotornya mencapai Rp45 juta. Angka itu belum menjadi keuntungan bersih.

Dari Rp45 juta hasil kotor penjualan untuk satu ton ini, apabila biaya operasional sekitar Rp20 juta dan upah awak kapal sekitar Rp7 juta, setidaknya Rp27 juta sudah harus dikeluarkan. Sisa Rp18 juta masih perlu dibagi sesuai kesepakatan usaha dan dikurangi biaya lain jika ada. Ketika hasil tangkapan sedikit atau kapal mengalami kerusakan, ruang untuk menutup biaya menjadi semakin sempit.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Pos terkait