“Tujuan saya saat itu ingin membuktikan bahwa kita bisa. Nanti kan yang lain terpengaruh secara positif untuk kesejahteraan mereka,” kenangnya.
Dari Rp150,- per kilogram menuju keberanian membangun usaha sendiri atau terlibat dalam kegiatan kapal tuna secara langsung. Ini bukan sekedar bagaimana nelayan bisa memiliki kapal. Ada harga diri, penghidupan keluarga, dan harapan agar kerja keras nelayan memberi hasil yang lebih baik. Laut tidak pernah menjanjikan kepastian. Namun, dengan keterampilan, kebersamaan, dan posisi tawar yang lebih kuat, nelayan Bungus punya peluang lebih besar untuk menentukan nasibnya sendiri. (***)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





