Imah juga menekankan, PTPL menyadari, nelayan memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dan menggerakkan perekonomian masyarakat pesisir.
“Kami memahami bahwa aktivitas melaut memiliki tangtangan tersendiri, sehingga keterampilan, kesiapan, dan keselamatan menjadi hal yang sangat penting,” imbuhnya.
PTPL berharap, para nelayan Sumbar bisa terus mengembangkan kemampuan, menjaga keselamatan saat melaut, dan memanfaatkan kesempatan untuk bertumbuh.
“Semoga kolaborasi antara perusahaan, kelompok nelayan, dan para pemangku kepentingan dapat terus terjalin sehingga masyarakat pesisir Sumatera Barat semakin berdaya, mandiri, dan sejahtera,” tutur Imah.
Menjaga Nelayan, Menjaga Ekonomi Pesisir
Sebanyak 7.038 nelayan tercatat di Kota Padang pada 2024. Dari jumlah itu, 1.708 orang nelayan berada di Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Sementara, data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat jumlah nelayan perikanan tangkap di laut di Sumbar mencapai 52.614 orang pada tahun yang sama.
Angka tersebut menunjukkan besarnya masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor perikanan. Ketika kapal rusak dan tak bisa melaut, penghasilan nelayan ikut terancam, sementara biaya bahann bakar dan perbekalan yang telah dikeluarkan tetap menjadi beban. Dampaknya juga dapat menjalar ke aktivitas ekonomi lain di sekitar pelabuhan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumbar Arry Yuswandi, dalam hal ini, turut menyorot pentingnya pemeliharaan mesin bagi nelayan. Menurut dia, ada aspek perawatan yang mungkin selama ini belum mendapat perhatian memadai. Sekda menilai program bengkel binaan PTPL dapat membantu menjawab kebutuhan pemeliharaan mesin kapal nelayan yang selama ini masih perlu peningkatan penanganan. Menurut dia, perawatan yang terabaikan dan kerusakan mesin kapal yang berulang dapat menambah beban biaya dan merugikan nelayan.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News SumbarFokus.com. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





